Friday, 19 July 2019 03:55

Tekad Baja Sisunandar Kembangkan Bibit Kopyor True-to-Type

Written by Indramajid
Rate this item
(0 votes)

Produksi buah kelapa kopyor di Indonesia masih terbilang rendah. Padahal bila dikelola dengan baik kelapa jenis ini bisa menjadi komoditas nasional unggul hingga mampu mendongkrak perekonomian Indonesia. Pandangan ini lah yang mendasari dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Sisunandar, Ph.D yang telah berhasil mengembangkan kelapa kopyor hibrida.

 

Bagi Nandar, panggilan akrab Sisunandar, penelitian sudah menjadi kewajiban dosen. “Bagi saya penelitian adalah tugas seorang dosen. Dosen harus melakukan penelitian, hal tersebut tidak bisa ditawar lagi dan kebetulan juga passion saya banyak disitu,” tegasnya.

 

Pada awalnya kelapa kopyor bukanlah fokus penelitian Nandar, tetapi ketika mengambil S3 di University of Queensland Australia tahun 2004, pembimbingnya ‘memaksa’ Nandar untuk melakukan penelitian tentang kelapa. Hingga penelitian tentang kelapa kopyor ia mulai tahun 2008 setelah menempuh S3.

 

Bukan hal mudah mempertahankan tekadnya, butuh banyak pengorbanan. Materi dan waktu yang disisihkan menjadi konsekuensi baginya. “Waktu yang terbuang bukan pengorbanan tetapi konsekuensi logis dari pilihan saya. Setiap hari pulang pkl 21.00 sudah biasa,” tandasnya.

 

Awal melakukan penelitian tahun 2008/2011, ia tidak mendapat dukungan dana dari manapun. Sudah tak terhitung kegagalan proposal penelitian yang ia ajukan, salah satunya ke Dikti. Akhirnya harus merogoh kocek sendiri guna membiayai penelitiannya.

 

“Alhamdullillah isteri saya juga dosen sehingga maklum ketika gaji digunakan sebagai dana penelitian,” ujar Nandar.

 

Kucuran dana mulai didapatkan dari lembaga riset Perancis Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement (Cirad) pada tahun 2009 dan dari Australia melalui Endeavour tahun setelahnya. “Saya mendapatkan dukungan dana dari Dikti pada tahun 2012 sampai sekarang.”

 

Bahkan keluarga Nandar pun tak mengeluhkan atas apa yang dikerjakan. Ia mengaku bahwa istri tak keberatan dengan kesibukannya kala itu, justru turut menemani di laboratorium.

 

“Keluarga tidak pernah meminta saya untuk berhenti karena mereka memahami pekerjaan yang saya geluti. Saya pun tidak pernah meyakinkan mereka kalau penelitian ini penting,” ujarnya.

 

Jalan tak selamanya mulus, tidak sedikit celaan yang diterima Nandar sejak awal penelitiaannya hingga kini. Mulai dari rekan kerja hingga pimpinan kampus, lantaran tak percaya pada penelitiannya. Nandar pun tak mengindahkannya, hanya sebagai camar lalu. “Saya hanya berfikir agak egois bahwa mereka percaya atau tidak itu tidak ada pengaruhnya karena toh mereka juga tidak bisa membantu apa-apa. Kalau apresiasi dari teman sejawat dan sebidang sangat bagus dan sangat mendukung.”

 

Tak hanya itu, kegelisahan lain jebolan University of Queensland Australia ini adalah kuantitas kelapa kopyor yang dibudidayakan petani hanya mampu menghasilkan buah kopyor antara sepuluh hingga 30 persen. Ini tak seimbang dengan banyaknya daerah penghasil kopyor di Indonesia, seperti Jombang, Kalianda, Pati, Purbalingga, dan terutama daerah di Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil kopyor terbanyak.

 

“Jadi dalam satu ikat kelapa paling hanya terdapat satu hingga tiga kelapa kopyor. Sedangkan petani masih melakukan cara alami untuk menanam buah kopyor,” ujar jebolan University of Queensland, Australia ini. Buah kopyor, lanjut dia, sebenarnya tak dapat dihasilkan secara alami. Kesulitan itu lah yang menjadikan harga kopyor mahal di pasaran.

 

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghasilkan 100 persen buah kopyor (true-to-type), dengan menggunakan teknik kultur embrio. Teknik ini telah berhasil dikembangkan di Philipina untuk penyediaan bibit kelapa Makapuno (sejenis kelapa kopyor) 75 hingga 100 persen.

 

Indonesia telah mencoba teknik yang sama, namun tingkat keberhasilannya relatif rendah, tahap inisiasi sebesar 65 persen, sedangkan tahap aklimatisasi 20 persen.

 

“Satu-satunya cara adalah mengambil embrio dan ditanam dengan kultur jaringan. Bibit yang dihasilkan dengan bioteknologi diharapkan mampu menghasilkan buah kopyor dengan presentasi diatas 90 persen,” ujarnya.

 

Teknik pembibitan kelapa kopyor hibrida yang dikembangkan Sisunandar dapat mempercepat waktu panen. “Saya yakin penelitian ini dapat terus dikembangkan. Ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan dunia,” tegas pemenang program Nusantara 2012 itu.

 

Kendala utama pada penelitiannya adalah rendahnya keberhasilan aklimatisasi. Namun mudah bagi Sisunandar untuk mengatasinya. Salah satu solusinya menggunakan mini growth chamber yang diletakkan pada lingkungan berintensitas cahaya tinggi (1400 lux) dan sistem pencahayaan 14 jam terang dan 10 jam gelap. Saat ini sedang dibuat kebun benih kelapa kopyor seluas tiga hektar di wilayah kabupaten Banyumas.

 

Meski kelapa kopyor baru bisa dipanen paling cepat dua tahun mendatang, Nandar berani memprediksi kopyor yang dihasilkan dari kultur embrio (true-to-type) ini, mampu menghasilkan buah kopyor dengan persentase lebih dari 95 persen. Kini kebun kelapa masih dalam fase perawatan. “Perawatannya sama seperti kelapa biasa, perlu pupuk 2 x per tahun serta pengawasan hama penyakit,  sama persis seperti kelapa biasa,” ujarnya. Nandar juga mengungkap, beberapa perusahaan swasta dan perseorangan banyak yang tertarik untuk membeli bibitnya.

 

Menuai Buah

 

Siapa menanam, ia akan menuai. Keberhasilan Sisunandar tak hanya berdampak pada dirinya. Ia pun turut mengharumkan nama UMP. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mendorong UMP menjadi Pusat Unggulan Kelapa Kopyor (PUKK) di Indonesia. Tak hanya itu, di UMP pun telah diresmikan Science Techno Park.

 

Nama universitas yang berada di daerah Kebaran ini pun kian harum. Pada puncak peringatan Milad ke-50 UMP mendapat banyak pujian. Bupati Banyumas Achmad Husein berterimakasih atas kontribusi UMP dalam mensejahteraan masyarakat dan sumbangsihnya di dunia pendidikan. “Dengan komitmen dan konsistensi, ternyata UMP bisa menjadi universitas favorit, baik di Banyumas maupun Jawa Tengah,” katanya.

 

“Saat ini peran pemerintah dan UMP sangat besar. Sejak tahun 2012, UMP membangun laboratorium terpadu lengkap dengan peralatannya untuk mendukung penelitian kelapa kopyor. Pemerintah melalui DP2M juga selalu mendukung  penelitian saya sejak tahun 2012 melalui  hibah bersaing maupun hibah kompetensi. Begitupun dengan Kemenristekdikti, terbukti dengan dukungan penelitian di Perancis pada tahun 2013/2014 dalam program Nusantara dan tahun 2015 dalam program riset SINAS. Jadi bantuan pemerintah maupun UMP sangat besar.”

 

Keberadaan pusat unggulan Iptek diharapkan mampu menjadi sarana penunjang bagi civitas akademika perguruan tinggi, peneliti, dan masyarakat untuk mengembangkan inovasi teknologi berbasis demand driven hingga meningkatan daya saing setiap koridor ekonomi sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing. (RA)

 

 

 

Artikel Asli :

http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2016/08/23/tekad-sisunandar-kembangkan-teknik-pembibitan-kelapa-kopyor-hibrida/

Read 81 times